Cuaca Bersahabat, Penyeberangan Merak–Bakauheni Awal 2026 Terpantau Lancar dan Aman
Portal Kawasan, JAKARTA – Pergantian tahun menjadi momen krusial bagi konektivitas antarpulau, khususnya di lintasan padat Jawa–Sumatera. Memasuki awal Tahun Baru 2026, aktivitas penyeberangan di Pelabuhan Merak terpantau berjalan lancar dan terkendali, didukung kondisi cuaca yang relatif bersahabat serta kesiapan operasional PT ASDP Indonesia Ferry (Persero).
Direktur Utama ASDP, Heru Widodo, memastikan bahwa hingga Kamis sore (1/1), layanan penyeberangan dari Jawa menuju Sumatera masih berada dalam kondisi aman dan normal, meski mobilitas masyarakat meningkat pascalibur Natal dan Tahun Baru.
“Layanan penyeberangan dari Jawa menuju Sumatera terpantau aman dan lancar. Kondisi cuaca juga mendukung aktivitas pelayaran di awal Tahun Baru 2026,” ujar Heru.
Ia menegaskan, kesiapsiagaan armada dan petugas menjadi faktor kunci dalam menjaga kelancaran arus penyeberangan, terutama di periode dengan intensitas perjalanan tinggi.
Berdasarkan prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), kondisi cuaca di kawasan Pelabuhan Merak pada Kamis (1/1) terpantau hujan ringan dengan kecepatan angin sekitar 11 knot ke arah barat daya.
Jarak pandang mencapai hingga 10 kilometer dan diperkirakan bertahan hingga tengah malam. Secara umum, kondisi tersebut masih dinilai aman untuk mendukung operasional penyeberangan ferry lintas Jawa–Sumatera.
Meski demikian, ASDP tetap menempatkan aspek keselamatan sebagai prioritas utama. Heru mengimbau seluruh pengguna jasa untuk mewaspadai potensi cuaca ekstrem yang diprediksi berlangsung hingga Maret mendatang.
“Keselamatan tetap menjadi prioritas utama. Koordinasi dan pemantauan cuaca bersama BMKG kami lakukan secara berkelanjutan. Apabila terjadi cuaca buruk dan tidak memungkinkan kapal berlayar, jadwal keberangkatan akan disesuaikan,” tegasnya.
BMKG juga mengingatkan potensi curah hujan di wilayah Banten dan Lampung yang diperkirakan berada pada kategori menengah, yakni 50–150 mm per dasarian. Informasi ini menjadi dasar bagi ASDP untuk memperkuat langkah antisipatif, mulai dari pengaturan jadwal operasional, kesiapan kapal, hingga penempatan personel di lapangan demi menjaga keselamatan pelayaran.
Berdasarkan data Posko Merak yang mencakup Pelabuhan Merak, Ciwandan, dan BBJ Bojonegara selama 24 jam periode 31 Desember pukul 00.00 hingga 23.59 WIB (H+6), tercatat sebanyak 115 trip kapal beroperasi.
Total penumpang yang menyeberang dari Jawa ke Sumatera mencapai 29.397 orang, turun 10,3 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebanyak 32.784 orang.
Sementara itu, kendaraan roda empat tercatat sebanyak 3.472 unit atau turun 3,3 persen dibandingkan realisasi tahun lalu sebesar 3.590 unit. Total seluruh kendaraan yang menyeberang dari ketiga pelabuhan tersebut pada H+6 mencapai 6.868 unit, turun 21,2 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebanyak 8.712 unit.
Adapun secara kumulatif sejak H-10 hingga H+6, total penumpang yang menyeberang dari Jawa ke Sumatera tercatat 619.808 orang atau meningkat 3,2 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebanyak 600.463 orang. Total kendaraan yang menyeberang pada periode tersebut tercatat 137.203 unit atau turun 6,3 persen dibandingkan realisasi tahun lalu sebanyak 146.499 unit.
General Manager ASDP Cabang Merak, Umar Imran Batubara, menyampaikan bahwa meskipun terjadi dinamika arus penyeberangan, kapasitas pelabuhan dan kapal masih sangat memadai untuk melayani kebutuhan masyarakat.
“Pelabuhan Merak memiliki kapasitas hingga 6.919 unit kendaraan kecil, sementara kapasitas angkut kapal per hari dapat mencapai 31.986 unit kendaraan kecil. Dengan dukungan tersebut, ASDP optimistis layanan penyeberangan tetap mampu mengakomodasi kebutuhan masyarakat secara aman, tertib, dan nyaman,” ujarnya.
Dengan kesiapan operasional, pemantauan cuaca yang berkelanjutan, serta sinergi lintas pemangku kepentingan, ASDP menegaskan komitmennya untuk menjaga kelancaran penyeberangan di awal tahun. Di tengah dinamika mobilitas nasional, Pelabuhan Merak terus menjadi simpul kepercayaan publik, menghubungkan perjalanan antarpulau dengan rasa aman dan kepastian layanan.
