Suara Jalanan yang Terlupakan: Seruan Ojol Sidoarjo untuk Keadilan yang Nyata
Portal Kawasan, SIDOARJO – Di balik deru motor dan notifikasi orderan, ada wajah-wajah yang terus berharap. Bukan sekadar berharap cuan, tatapi keadilan. Bukan sekadar berrtahan hidup, tetapi diakui martabatnya.
Hari Sabtu kemarin (27/7), suara itu akhirnya terdengar lebih lantang dari biasanya. Aliansi Ojol Sidoarjo (AOS) mnyerukan permintaan yang selama ini terpendam: regulasi yang pasti, adil, dan berpihak pada kesejahteraan driver ojek online.
Babe Teguh, Ketua AOS yang dikenal lugas dan bersahaja, berdiri sebagai juru bicara hati ribuan pegemudi yang selama ini mengabdi dalam ketidakjelasan hukum. “Kami tidak minta kaya,” katanya. “Kami hanya ingin anak kami bisa terus sekolah, keluarga kami sehat, dan dapur kami tetap mengepul,” lanjutnya.
Pernyataan Babe bukan sekadar keluhan. Ia adalah pengingat bahwa hingga hari ini, para pengemudi ojol masih beroperasi di ruang abu-abu hukum. Tak ada undang-undang yang secara eksplisit melindungi mereka.
Yang ada hanyalah diskresi pemerintah, izin tak tertulis yang memberi ruang bagi aplikator untuk beroperasi, tapi tak memberi kepastian bagi mereka yang setiap hari mengantar harapan di balik helm dan jaket hijau.
Tiga Fitur yang Membuat Hidup Semakin Berat
Keluhan bukan datang tanpa sebab. Dalam forum jaring aspirasi yang digelar Aliansi Wartawan Online Sidoarjo (AWOS) dua hari sebelumnya, para driver bersuara tentang luka mereka: fitur slot, Aceng/Goceng, dan double order.
Tiga fitur ini dianggap merugikan. Mereka menambah jarak, memperpanjang waktu kerja, tapi tak menambah upah secara adil.
“Algoritma ini membuat kami seperti robot, bukan manusia,” ujar salah satu driver yang hadir.

Mereka juga mendesak pengurangan komisi aplikator yang selama ini dianggap mencekik. Sistem rekrutmen yang terlalu longgar juga menjadi sorotan. Banyak mitra baru masuk, tapi orderan tak bertambah. Akibatnya, persaingan makin sengit, dan pendapatan makin menipis.
Dari Jalann Menuju Istana: Harapan untuk Presiden Prabowo
Di tengah kabut kebijakan dan algoritma, AOS menaruh harapan besar kepada Presiden Prabowo Subianto. Harapan agar suara dari jalanan ini sampai ke istana. Mereka percaya, pemerintahan saat ini mampu mengubah arah.
“Jika kami diberi perlindungan, kami bisa menjadi mitra yang kuat bagi negara,” ucap Babe Teguh. “Kami siap mendukung penguatan ekonomi rakyat dan menyongsong Indonesia Emas 2045.”
Kasan Munasir, kuasa hukum AOS, mempertegas urgensi regulasi. “Kita tidak bisa terus membiarkan mereka diatur oleh sistem tanpa perlindungan dari negara. Mereka adalah penggerak ekonomi harian yang nyata.”
Langkah Awal: Dari Perda untuk Rakyat
Warsono, Ketua AWOS, mengingatkan bahwa perubahan bisa dimulai dari level daerah. Ia mendorong AOS menggandeng Pemkab Sidoarjo untuk menyusun Peraturan Daerah (Perda) sebagai langkah awal.
“Perda bisa membuka jalan menuju perlindungan komprehensif. Pendidikan, kesehatan, dan akses ekonomi harus diatur dari bawah,” katanya.
Bagi AOS, perjuangan ini bukan hanya soal tarif, algoritma, atau slot. Ini adalah perjuangan tentang martabat. Tentang para ayah dan ibu yang setiap hari membawa harapan di balik punggung mereka. Tentang Indonesia yang lebih adil untuk semua, tak terkecuali mereka yang bekerja di atas dua roda. (ALN)
