Impor Naik, Kemenperin Gas Industri Kendaraan Niaga Kuasai Pasar Dalam Negeri
Portal Kawasan, JAKARTA — Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menyoroti meningkatnya impor kendaraan niaga yang mulai menggerus pasar domestik. Pemerintah pun tancap gas mendorong industri dalam negeri agar lebih kompetitif dan mampu memenuhi kebutuhan pasar nasional yang terus tumbuh.
Sekretaris Jenderal Kemenperin Eko S.A. Cahyanto mengungkapkan, industri alat transportasi selama ini menjadi salah satu tulang punggung ekonomi dengan kontribusi 1,27 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) pada 2025. Angka ini bahkan diperkuat oleh sektor perdagangan kendaraan dan jasa reparasi yang menyumbang 2,02 persen terhadap PDB.
“Ini mencerminkan meningkatnya kebutuhan distribusi barang, layanan purna jual, serta peremajaan armada kendaraan niaga,” ujar Eko saat membuka GAIKINDO Indonesia International Commercial Vehicle Expo (GIICOMVEC) 2026 di Jakarta.
Permintaan terhadap kendaraan niaga memang sedang naik. Sektor transportasi dan pergudangan tercatat tumbuh 8,78 persen sepanjang 2025—sinyal kuat bahwa sistem logistik nasional membutuhkan kendaraan yang lebih andal dan efisien.
Namun di balik peluang tersebut, industri dalam negeri menghadapi tantangan serius. Produksi kendaraan niaga pada 2025 justru turun 3,5 persen menjadi 164 ribu unit. Dampaknya, tingkat utilisasi industri hanya berada di kisaran 58 persen, di bawah ambang ideal.
Lebih mengkhawatirkan lagi, terjadi ketidakseimbangan antara produksi dan kebutuhan pasar. Selisih sekitar 4.000 unit pada 2025 terpaksa ditutup oleh produk impor.
“Fenomena ini menunjukkan adanya kesenjangan pasokan domestik yang harus segera direspons,” tegas Eko.
Kemenperin juga menyoroti maraknya truk impor yang diduga tidak melalui proses homologasi dan belum memenuhi standar emisi Euro 4. Kondisi ini dinilai berpotensi menciptakan persaingan tidak sehat sekaligus menghambat upaya pengendalian pencemaran udara.
Selain itu, praktik penjualan kendaraan tanpa dokumen resmi turut menjadi perhatian karena berisiko meningkatkan kredit macet di sektor pembiayaan.
Sebagai langkah strategis, pemerintah terus mendorong penguatan struktur industri, peningkatan efisiensi produksi, hingga optimalisasi kapasitas terpasang.
Implementasi kebijakan Zero Over Dimension Over Loading (ODOL) juga dipercepat untuk menciptakan sistem logistik yang lebih aman dan berkelanjutan.
Dalam konteks tersebut, GIICOMVEC 2026 dinilai menjadi momentum penting.
Pameran ini menghadirkan 14 merek kendaraan komersial dan lebih dari 35 industri pendukung, sekaligus menjadi ajang konsolidasi antara pelaku industri, pembiayaan, dan regulator.
Ketua Umum GAIKINDO Putu Juli Ardika menegaskan, kendaraan komersial memiliki peran vital sebagai urat nadi distribusi nasional.
“Truk dan bus menghubungkan pusat produksi dengan pasar. Untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi, dibutuhkan kendaraan yang tangguh, efisien, dan berbasis teknologi masa depan,” katanya.
Di sisi lain, kinerja ekspor otomotif Indonesia juga menunjukkan tren positif. Sepanjang 2025, ekspor kendaraan utuh (CBU) mencapai 518.212 unit atau naik 9,75 persen. Dari jumlah itu, kendaraan komersial menyumbang lebih dari 20 ribu unit—menandakan produk Indonesia mulai mendapat tempat di pasar global.
Melalui GIICOMVEC 2026, GAIKINDO menargetkan lebih dari 11 ribu pengunjung profesional dan berharap ajang ini mampu membuka peluang ekspor yang lebih luas.
Pemerintah pun berharap sinergi antara industri, asosiasi, dan pemangku kepentingan dapat semakin solid.
Tujuannya jelas: memperkuat industri kendaraan niaga nasional agar tidak hanya berjaya di kandang sendiri, tetapi juga kompetitif di pasar global. (ALN)
