Menyulam Warna di Tepi Ciliwung: Ghozi Zulazmi dan Mimpi Kampung Tematik
Portal Kawasan, JAKARTA – Di tepi aliran Ciliwung yang tak pernah tidur, suara warga kembali bergema. Airnya mungkin keruh, tapi niat mereka jernih: ingin hidup lebih layak, ingin kampung mereka tak lagi sekadar cerita tentang banjir, melainkan kisah tentang harapan.
Hari itu, Jumat (7/11) di Jalan Slamet Riyadi IV, RW04 Kebon Manggis, Matraman, langit tampak teduh, seolah ikut menyaksikan bagaimana satu per satu suara rakyat dihimpun dalam Reses I yang digelar oleh H. Ghozi Zulazmi, S.Pi, anggota Komisi D DPRD dari Parta PKS DKI Jakarta. Bukan sekadar formalitas, tetapi sebuah perjumpaan yang hangat antara rakyat dan wakilnya.
“Alhamdulillah hari ini kita selesai beraksi bersama masyarakat dan tokoh RW04 untuk menghimpun masukan, gagasan, dan permasalahan,” tutur Bang Ghozi membuka pertemuan. Ucapannya sederhana, tapi mengandung napas tanggung jawab seorang wakil rakyat yang ingin lebih banyak mendengar daripada berbicara.

Dari obrolan yang mengalir seperti air kali, muncul beragam keluh dan asa: soal normalisasi Kali Ciliwung yang tak kunjung rampung, layanan BPJS yang masih tersendat, hingga pendidikan gratis di SMA yang masih dirindukan banyak orang tua.
“Ini penting untuk kita perjuangkan,” tegasnya.
Namun aspirasi warga tak berhenti pada urusan praktis. Ada kegelisahan yang lebih dalam: apakah penataan bantaran kali bisa dilakukan dengan keadilan agraria? Apakah Undang-Undang Agraria Nomor 60 masih menjadi payung hukum bagi mereka yang hidup di pinggir Ciliwung?
Bang Ghozi menanggapinya dengan tenang, penuh empati. “Kita harus meninjau dulu bagaimana keberlakuan undang-undang itu. Tapi yang jelas, bantaran kali ini menjadi prioritas dalam pengendalian banjir. Kami di DPRD akan membawa masukan masyarakat ini, karena kami ini perpanjangan tangan rakyat,” ujarnya.

Dalam dialog itu, muncul pula gagasan indah: Kampung Warna-Warni — konsep kampung tematik yang diusulkan warga Slamet Riyadi IV. Sebuah ide kecil tapi berwarna, tentang bagaimana warga ingin mengubah wajah kampung mereka menjadi lebih hidup, tanpa harus terus-menerus diteror genangan.
“Gagasan ini menarik. Kalau bisa diwujudkan, akan sangat baik,” ujar Bang Ghozi, matanya menyiratkan semangat kolaborasi.
Bagi dia, reses bukan sekadar acara seremonial. Ini adalah ritual kebersamaan, ruang untuk mencari “winning solution” — solusi yang menangkan semua pihak. “Kita ingin pembangunan berjalan sinergis, tanpa menimbulkan ekses negatif bagi masyarakat,” ujarnya, menegaskan peran DPRD sebagai penyeimbang antara kebijakan dan kebutuhan rakyat.

Sore mulai turun. Warga menutup acara dengan senyum dan jabat tangan. Di sela itu, Hamzah, Kasi Ekbang Kelurahan Kebon Manggis, menambahkan nada optimisme:
“Aspirasi ini sangat bagus. Kita memang perlu kebersamaan antarwarga, DPRD, dan pemerintah. Ini proyek strategis nasional, jadi harus dijalankan bersama. Mudah-mudahan bisa mengurangi banjir dan membawa kebaikan bagi Jakarta.”
Dan seperti Ciliwung yang terus mengalir, begitu pula semangat di Kebon Manggis. Dari tepian kali hingga ruang rapat dewan, aspirasi itu kini mengalir mencari muara — menuju Jakarta yang lebih tertata, lebih manusiawi, dan lebih berwarna. (ALN)
