PMI DKI Tekankan Peran BDRS dalam Keselamatan Pasien, RS MMC Raih Peringkat Teratas
Portal Kawasan, JAKARTA – Palang Merah Indonesia (PMI) Provinsi DKI Jakarta menegaskan pentingnya peran Bank Darah Rumah Sakit (BDRS) dalam memastikan kebutuhan darah pasien terpenuhi secara aman, tepat waktu, dan sesuai standar pelayanan.
Ketua PMI Provinsi DKI Jakarta, H. Beky Mardani, mengatakan pelayanan darah merupakan sebuah rantai kemanusiaan yang melibatkan pendonor, Unit Donor Darah (UDD) PMI, hingga rumah sakit melalui BDRS.
Hal itu disampaikan Beky saat memberikan penghargaan kepada sejumlah BDRS terbaik se-DKI Jakarta di Gedung Muhammadiyah, Jakarta Pusat, Sabtu (15/8/2026).
Menurut Beky, darah memiliki karakteristik berbeda dibandingkan kebutuhan medis lainnya karena tidak dapat diproduksi di pabrik. Ketersediaan darah sepenuhnya bergantung pada manusia, khususnya pendonor sukarela.
“Pelayanan darah sesungguhnya merupakan sebuah rantai kemanusiaan yang panjang. Dimulai dari kebaikan seorang pendonor, dilanjutkan dengan proses pengolahan dan penyediaan darah di UDD PMI, hingga akhirnya darah tersebut diberikan kepada pasien melalui pelayanan di rumah sakit,” ujar Beky.

Ia menilai BDRS memiliki posisi strategis karena berada pada bagian penting dari rantai pelayanan tersebut. BDRS dituntut memastikan darah yang dibutuhkan pasien tersedia secara tepat, aman, berkualitas, dan sesuai kebutuhan medis.
Karena itu, Beky menegaskan keberhasilan pelayanan darah tidak dapat dilekatkan hanya kepada PMI maupun rumah sakit secara terpisah.
“Keberhasilan pelayanan darah bukanlah keberhasilan PMI sendiri, dan bukan pula keberhasilan rumah sakit sendiri Keberhasilan itu adalah keberhasilan kita bersama dalam memastikan pasien mendapatkan darah yang dibutuhkan pada saat yang tepat,” katanya.
Tiga Hal yang Perlu Diperkuat
Beky menyebut sedikitnya tiga aspek yang perlu terus diperkuat dalam pelayanan darah di Jakarta, yakni kolaborasi antara PMI dan rumah sakit, peningkatan mutu pelayanan BDRS, serta penguatan gerakan donor darah rutin di lingkungan rumah sakit.
Menurut dia, pola kerja sama antara PMI dan rumah sakit harus semakin responsif dan terbuka agar kebutuhan darah pasien dapat ditangani secara optimal.
Di sisi lain, rumah sakit juga didorong ikut memperkuat ketersediaan stok darah melalui kegiatan donor darah rutin.
“Penghargaan yang diberikan hari ini hendaknya tidak menjadi tujuan akhir, tetapi menjadi motivasi untuk mempertahankan bahkan meningkatkan standar pelayanan dari waktu ke waktu,” ujar Beky.

Ia menambahkan, setiap kantong darah yang tersedia merupakan hasil dari rangkaian kerja banyak pihak. Mulai dari pendonor, petugas PMI yang memproses darah, hingga petugas BDRS yang memastikan darah sampai kepada pasien yang membutuhkan.
“Pada akhirnya ada seorang pasien yang mendapatkan kesempatan untuk melanjutkan kehidupannya,” kata Beky.
Karena itu, ia meminta pelayanan darah tidak hanya dipandang sebagai proses administratif dan teknis, tetapi sebagai bagian dari upaya menjaga keselamatan pasien.
“Tujuan akhir kita bukanlah mendapatkan penghargaan, melainkan memberikan pelayanan darah yang semakin baik dan memastikan keselamatan pasien,” tegasnya.
Dinkes: Ketersediaan Darah Dukung Layanan Kesehatan
Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta, dr. Ratna Sari, MKM, yang hadir mewakili Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta, turut menyoroti pentingnya ketersediaan darah dalam sistem pelayanan kesehatan.

Ratna mengatakan Jakarta memiliki jaringan fasilitas kesehatan yang relatif lengkap, dengan hampir 100 rumah sakit, 44 RSUD, serta lebih dari 3.000 klinik.
Menurut dia, kualitas layanan kesehatan juga dipengaruhi oleh kesiapan sistem pendukung, termasuk ketersediaan darah yang aman dan memadai.
“Peningkatan pelayanan kesehatan ini salah satunya juga berperan karena PMI, berupa penyiapan dan ketersediaan darah yang cukup, aman, dan bebas dari penyakit menular,” kata Ratna.
Ia pun mengapresiasi kinerja BDRS yang menjadi bagian dari sistem pelayanan kesehatan di Jakarta.
Ratna berharap penghargaan tersebut dapat menjadi motivasi bagi BDRS untuk mempertahankan sekaligus meningkatkan mutu pelayanan kepada masyarakat.
RS MMC Peringkat Pertama
Dalam kegiatan tersebut, PMI DKI Jakarta juga memberikan apresiasi kepada BDRS berdasarkan capaian pelayanan tahun 2025.
RS MMC (Metropolitan Medical Centre) menempati peringkat pertama BDRS terbaik tahun 2025. Posisi kedua diraih RSPON Prof. Dr. dr. Mahar Mardjono Jakarta, sedangkan RS EMC Grha Kedoya berada di posisi ketiga.

Berikut 10 BDRS terbaik tahun 2025:
RS MMC (Metropolitan Medical Centre)
RSPON Prof. Dr. dr. Mahar Mardjono Jakarta
- RS EMC Graha Kedoya
- RSUD Cengkareng
- RS Medistra
- RS Pusat Pertamina
- RS MRCCC Siloam Hospitals Semanggi
- RS Pluit
- RS St. Carolus
- RS Pondok Indah
Beky menegaskan penghargaan tersebut bukan dimaksudkan sebagai ajang persaingan antarrumah sakit, melainkan sebagai momentum untuk mengevaluasi sekaligus meningkatkan kualitas pelayanan.
Ia berharap seluruh BDRS, termasuk yang belum memperoleh penghargaan, terus memperbaiki standar pelayanan dan memperkuat koordinasi dengan PMI.
“Mari kita terus membangun sinergi, memperkuat kolaborasi, meningkatkan mutu pelayanan, dan bersama-sama menjaga ketersediaan darah bagi masyarakat DKI Jakarta,” ujar Beky.
Karena pada akhirnya, PMI dan rumah sakit berada pada satu tujuan yang sama: menyelamatkan kehidupan. (ALN)
