Kapasitas Aluminium Indonesia Diproyeksi Tembus 3,56 Juta Ton, Industri Hilir Didorong Perkuat Ekosistem
Portal Kawasan, JAKARTA – Industri aluminium Indonesia memasuki fase pertumbuhan baru seiring peningkatan kapasitas produksi nasional. Namun, lonjakan produksi tersebut dinilai perlu diikuti penguatan industri hilir agar Indonesia tidak hanya menjadi pemasok aluminium primer, tetapi mampu menghasilkan produk bernilai tambah dan berdaya saing global.
Data Shanghai Metal Markets (SMM) menunjukkan kapasitas produksi aluminium primer Indonesia diproyeksikan melonjak dari sekitar 870 ribu ton pada 2025 menjadi 2,51 juta ton pada 2026. Kapasitas tersebut diperkirakan kembali meningkat hingga 3,56 juta ton pada 2027.
Di tengah ekspansi tersebut, kebutuhan terhadap teknologi pengolahan dan manufaktur aluminium menjadi semakin besar. Terlebih, Indonesia masih mengimpor berbagai produk aluminium olahan dan fabrikasi, mulai dari pelat, foil, struktur, hingga komponen otomotif.
Kondisi itu menjadi salah satu latar belakang penyelenggaraan GIFA dan METEC Indonesia 2026 yang akan berlangsung pada 9–12 September 2026 di Jakarta International Expo (JIExpo) Kemayoran, Jakarta.

Pameran internasional di bidang pengecoran logam dan metalurgi tersebut untuk pertama kalinya akan menghadirkan Aluminium Pavilion, area khusus yang menampilkan teknologi, material, dan solusi untuk industri aluminium.
GIFA dan METEC Indonesia 2026 digelar Messe Düsseldorf Asia bersama Pamerindo Indonesia sebagai special co-located exhibition dengan Mining Indonesia ke-24. Pameran ini diproyeksikan diikuti sekitar 200 perusahaan dari Austria, China, Jerman, India, Italia, Singapura, Spanyol, dan Indonesia, serta menarik sekitar 6.000 pengunjung profesional.
Managing Director Messe Düsseldorf Asia Lars Wismer mengatakan Indonesia memiliki posisi yang semakin strategis dalam industri logam global.
“Indonesia memiliki posisi yang semakin strategis dalam industri logam global, tidak hanya sebagai salah satu produsen mineral terbesar di dunia, tetapi juga sebagai pasar yang berkembang pesat bagi teknologi pengolahan dan manufaktur maju yang membuka peluang investasi bagi pelaku industri logam global,” ujar Lars.
Hilirisasi Jadi Tantangan Berikutnya
Peningkatan kapasitas produksi aluminium nasional terjadi ketika pasar global masih menghadapi potensi defisit pasokan. Berdasarkan proyeksi S&P Global, kekurangan pasokan aluminium global diperkirakan mencapai sekitar 764 ribu ton pada 2026.
Momentum tersebut dinilai membuka peluang bagi Indonesia untuk meningkatkan perannya dalam rantai pasok aluminium global.
Analisis CRU bahkan menunjukkan Indonesia telah bertransformasi menjadi eksportir bersih aluminium primer, dengan China, Vietnam, dan Korea Selatan menjadi sejumlah pasar ekspor utama.

Namun, peningkatan produksi aluminium primer belum sepenuhnya diikuti kemampuan produksi produk hilir. Dalam 12 bulan terakhir, nilai impor aluminium tidak tempa atau unwrought aluminium tercatat sekitar US$698 juta, sementara impor berbagai produk aluminium fabrikasi mencapai nilai yang lebih tinggi.
Kesenjangan tersebut menunjukkan masih terbukanya ruang pengembangan industri pengolahan aluminium di dalam negeri.
Kebutuhan teknologi pun semakin beragam, mulai dari peralatan pengecoran, sistem thermal processing, simulasi digital, mesin fabrikasi, sistem pengendalian mutu, hingga teknologi material handling.
Deputy Event Director Pamerindo Indonesia Hanung Hanindito mengatakan, pameran menjadi salah satu wadah untuk mempertemukan kebutuhan industri dengan teknologi yang dibutuhkan pasar.
“Kami percaya pameran tetap menjadi wadah penting untuk mempertemukan kebutuhan industri dengan solusi yang dibutuhkan pasar. Melalui GIFA dan METEC Indonesia 2026, kami ingin menghadirkan kesempatan bagi para pelaku industri untuk membangun jejaring, menemukan teknologi terbaru, serta membuka peluang kerja sama yang dapat memberikan nilai tambah bagi perkembangan industri logam di Indonesia,” kata Hanung.
Teknologi Jadi Pengungkit Industri Hilir
Penguatan ekosistem aluminium juga semakin relevan seiring pertumbuhan industri otomotif, kendaraan listrik dan energi terbarukan. Aluminium menjadi salah satu material penting karena kebutuhan terhadap komponen yang ringan, efisien, dan mendukung pengembangan teknologi kendaraan serta manufaktur modern terus meningkat.

Di kawasan Asia-Pasifik sendiri, permintaan terhadap teknologi die-casting telah mencapai hampir 50 persen dari permintaan global. Indonesia juga semakin memperkuat posisinya dalam rantai pasok otomotif ASEAN.
Dari sisi kebijakan, agenda hilirisasi pemerintah turut menjadi faktor pendorong. Kebijakan larangan ekspor bauksit sejak 2023 diarahkan untuk mendorong pengolahan bahan baku di dalam negeri melalui fasilitas pemurnian dan peleburan.
Karena itu, tantangan berikutnya bukan hanya meningkatkan kapasitas produksi aluminium primer, tetapi juga memperkuat mata rantai setelah proses peleburan hingga menghasilkan produk dengan nilai tambah lebih tinggi.
GIFA Indonesia akan menghadirkan teknologi pengecoran dan peleburan logam melalui perusahaan internasional seperti Cunova GmbH dari Jerman, EBNER Industrial Furnaces dari China, dan KALFRISA S.A.U. dari Spanyol.
Sejumlah perusahaan nasional seperti PT Wilisindomas Indahmakmur dan PT Citec Engineering Indonesia juga akan menampilkan solusi untuk industri die-casting, rekayasa industri, serta EPC.
Sementara METEC Indonesia menghadirkan teknologi simulasi pengecoran, digitalisasi rantai pasok, peralatan presisi, hingga solusi rekayasa metalurgi. Beberapa peserta di antaranya MAGMA Engineering Asia Pacific Pte. Ltd., Oteplace, Servizi Lame di A. Marchesini, PT Wintherm Bara Indonesia, dan Metallurgical Corporation of China Ltd. (MCC).
Dengan menghadirkan produsen aluminium primer, industri pengecoran dan fabrikasi, manufaktur otomotif, penyedia teknologi, hingga pelaku industri hilir dalam satu lokasi, GIFA dan METEC Indonesia 2026 diarahkan menjadi salah satu titik temu untuk memperkuat rantai nilai industri logam dan aluminium nasional.
Penyelenggara berharap pertemuan tersebut tidak hanya menghasilkan transaksi bisnis, tetapi juga mempercepat transfer teknologi, pertukaran pengetahuan, dan terbentuknya kemitraan yang dapat mendukung transformasi Indonesia dari produsen bahan mentah menuju negara dengan industri aluminium bernilai tambah.
