LKB Rayakan Usia Emas, Tegaskan Budaya Betawi Tetap Jadi Identitas Jakarta Menuju Kota Global
Portal Kawasan, Jakarta – Lembaga Kebudayaan Betawi (LKB) menegaskan komitmennya menjaga budaya Betawi sebagai identitas utama Jakarta di tengah transformasi ibu kota menuju kota global. Penegasan itu disampaikan dalam Pagelaran Seni Budaya Betawi yang digelar di Teater Besar Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta Pusat, Selasa (14/7), bertepatan dengan puncak perayaan HUT ke-50 LKB sekaligus rangkaian Hari Ulang Tahun ke-499 Kota Jakarta.
Pagelaran tersebut menghadirkan beragam kesenian khas Betawi, mulai dari tari tradisional, lenong, musik Betawi hingga keroncong Betawi. Kegiatan itu menjadi penanda perjalanan LKB selama lima dekade dalam melestarikan sekaligus mengembangkan kebudayaan Betawi di tengah pesatnya perkembangan Jakarta.
Ketua Umum LKB, H. Beky Mardani, mengatakan usia emas organisasi menjadi momentum memperkuat kolaborasi antara pemerintah, komunitas, dan masyarakat dalam menjaga keberlangsungan budaya Betawi.

“Budaya Betawi sudah teruji mampu beradaptasi dengan berbagai perubahan yang terjadi di Jakarta. Sejak ratusan tahun lalu budaya Betawi hidup berdampingan dengan beragam budaya lain dan mampu berakulturasi tanpa kehilangan jati dirinya,” kata Beky.
Menurutnya, status Jakarta sebagai kota global tidak boleh menggerus identitas budaya lokal. Sebaliknya, momentum tersebut harus dimanfaatkan untuk memperkuat eksistensi budaya Betawi sebagai budaya inti Jakarta.
“Ke depan, meskipun Jakarta menjadi kota global, identitas Betawi tetap menjadi tuan rumah di kotanya sendiri. Kami bersyukur Pemerintah Provinsi DKI Jakarta telah menegaskan bahwa budaya Betawi merupakan budaya inti Jakarta,” ujarnya.

Beky juga berharap revisi regulasi terkait pemajuan kebudayaan di Jakarta mampu memberikan ruang yang lebih luas bagi pelestarian bahasa Betawi, sastra lisan, permainan tradisional, hingga berbagai warisan budaya lainnya.
Sejak berdiri pada 1976, LKB menjadi mitra strategis Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dalam merumuskan berbagai kebijakan pelestarian budaya. Beragam kajian dan rekomendasi yang dihasilkan lembaga tersebut turut mendorong penguatan seni tradisi, bahasa Betawi, kuliner, pakaian adat, permainan rakyat, hingga identitas budaya di ruang publik.
Budayawan Betawi Yahya Andi Saputra mengatakan perjalanan LKB tidak terlepas dari peran Gubernur DKI Jakarta periode 1966–1977 Ali Sadikin yang menjadi tokoh penting dalam kebangkitan budaya Betawi.

Menurut Yahya, regenerasi menjadi fokus utama LKB melalui berbagai program edukasi dan pelestarian tradisi, seperti menghidupkan kembali tradisi ngebuleng, sohibul hikayat, hingga penyelenggaraan Abang None Cilik yang kembali digelar tahun ini bekerja sama dengan PT Pembangunan Jaya Ancol.
“Selama 50 tahun, Lembaga Kebudayaan Betawi telah banyak mendedikasikan program-program kebudayaan bagi masyarakat, pelajar, dan mahasiswa. Tahun ini kami juga kembali menghidupkan Abang None Cilik yang sempat lama vakum,” ujar Yahya.
Sebagai simbol regenerasi budaya, salah satu finalis Abang None Cilik turut tampil di atas panggung dan mendapat sambutan hangat dari para penonton.

Suasana perayaan semakin meriah melalui penampilan sejumlah seniman senior Betawi, seperti Mak Tonah, Munaroh, Sabar Bokir, Burhan, Opi Kumis, dan Bang Kubil yang membawakan pertunjukan lenong.
Acara juga dimeriahkan penampilan Keroncong Betawi pimpinan Yoyo Muhtar yang dipandu Bang Aden dan Mpo Amira.
Sejumlah tokoh turut menghadiri acara tersebut, di antaranya Gubernur DKI Jakarta periode 2007–2012 Fauzi Bowo (Bang Foke) yang mengajak masyarakat Betawi terus menjaga persatuan dan kekompakan dalam menghadapi perkembangan zaman.

Tak hanya dihadiri tokoh nasional, kegiatan itu juga menarik perhatian tamu mancanegara. Delegasi Women International Club (WIC) yang beranggotakan para istri duta besar negara sahabat di Indonesia serta perwakilan Soka Gakkai Jepang turut menyaksikan pagelaran tersebut, menandakan budaya Betawi semakin dikenal di tingkat internasional.
Memasuki usia ke-50, LKB menegaskan akan terus menjadi pusat pelestarian, pengembangan, pemikiran, dan regenerasi kebudayaan Betawi. Di tengah langkah Jakarta menuju kota global dan menyongsong usia lima abad, LKB optimistis budaya Betawi akan tetap menjadi fondasi identitas ibu kota sekaligus warisan yang terus hidup lintas generasi. (ALN)
