KSB Kebon Manggis: Ketika Kolaborasi Masih Menunggu Tangan-Tangan yang Saling Menggenggam
Portal Kawasan, JAKARTA – Di sudut Jakarta yang sibuk, Kampung Siaga Bencana (KSB) Kebon Manggis, Matraman, Jakarta Timur berdiri seperti prajurit setia, selalu siap menghadapi bencana yang datang tanpa undangan.
Namun, meski bertugas menjaga benteng pertahanan saat banjir atau kebakaran, KSB seolah berjalan sendirian, tanpa koordinasi yang seharusnya menjadi denyut nadinya.
”KSB di Kebon Manggis bukan tidak berjalan,” kata Ludy Nurbito, KSB Kebon Manggis dengan nada tegas. “Tapi masalahnya adalah kurangnya koordinasi.”
Seperti kapal tanpa nakhoda, KSB hanya mengurus logistik, namun tidak memiliki wewenang untuk menggerakkan dapur umum atau mengambil keputusan dalam situasi darurat.
Di gudang SDN Kebon Manggis 01, kompor, wajan, dan peralatan lainnya berbaris rapi, menunggu panggilan tugas. Namun, ketika bencana datang dan warga butuh makanan hangat, KSB hanya bisa berdiri di garis belakang, menanti tangan-tangan yang seharusnya menggerakkan roda koordinasi. “Kami hanya penyedia logistik, bukan eksekutor di lapangan,” lanjutnya.
Bencana adalah tamu tetap yang datang setiap lima tahun sekali, seperti gelombang besar yang tidak bisa dihentikan. Tahun 2020 berlalu dengan air bah yang menenggelamkan harapan, dan kini 2025 mengintip dengan kekhawatiran yang sama. Siapa yang akan bertanggung jawab?
Dalam peta besar kebencanaan, Taruna Siaga Bencana alias TAGANA dan KSB ibarat dua saudara yang berjalan di jalur berbeda. TAGANA, yang berada di bawah Dinas Sosial, mestinya berperan aktif di lapangan—memasak, mendirikan tenda, dan memastikan warga terdampak mendapatkan pertolongan.

Sementara itu, KSB lebih banyak bertugas di balik layar, mengurus persediaan dan memastikan semuanya siap saat dibutuhkan.
Namun, ada yang mengganjal dalam perjalanan ini. Regenerasi seakan berjalan tertatih, dengan banyak anggota yang sudah termakan usia.
“Dulu kami lincah, tapi sekarang? Usia tidak bisa ditipu. KSB dan TAGANA butuh darah muda agar tetap bisa berlari menghadapi bencana,” ungkapnya dengan nada prihatin.
Kini, dengan masa jabatannya yang akan berakhir pada Oktober 2025, ia hanya bisa berharap. Harapan bahwa koordinasi bukan sekadar kata-kata, bahwa regenerasi bukan sekadar wacana, dan bahwa KSB serta TAGANA akan kembali menjadi benteng kokoh bagi warga Kebon Manggis.
Karena bencana tidak menunggu kesiapan, dan mereka yang bersiaplah yang akan bertahan. (RZK/AGS/ALN)
