Bansos Pascabencana di Sumatera Diyakini Dongkrak Daya Beli Warga
Portal Kawasan, ACEH TIMUR – Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Muhammad Tito Karnavian menilai penyaluran bantuan sosial (bansos) bagi masyarakat terdampak bencana di wilayah Sumatera tidak hanya membantu pemulihan korban, tetapi juga berpotensi mendorong pergerakan ekonomi lokal.
Tito yang juga menjabat sebagai Ketua Satuan Tugas (Satgas) Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) Pascabencana Sumatera mengatakan, bantuan yang disalurkan pemerintah akan meningkatkan daya beli masyarakat sehingga aktivitas perdagangan di daerah terdampak dapat kembali bergerak.
“Masyarakat dikasih uang agar mereka bisa belanja. Kalau ada belanja, maka pasti akan ada pedagang. Ada demand, permintaan, pasti akan ada supply, sehingga supply bisa masuk, perdagangan bisa jalan, pasar bisa jalan,” ujar Tito saat penyerahan bantuan pemerintah untuk penanganan korban bencana alam di wilayah Sumatera di Pendopo Bupati Aceh Timur, Aceh, Senin (16/3/2026).

Dalam kesempatan tersebut, Tito juga mengapresiasi langkah Menteri Sosial Saifullah Yusuf yang telah menyalurkan bantuan secara simbolis di Aceh Timur melalui PT Pos Indonesia. Menurutnya, bencana alam yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera, termasuk Aceh Timur, telah memberikan dampak besar terhadap kondisi perekonomian masyarakat.
Ia menilai, bantuan sosial yang disalurkan pemerintah tidak hanya dimanfaatkan langsung oleh masyarakat terdampak, tetapi juga dapat menggerakkan roda ekonomi daerah. “Semua daerah lain diharapkan demikian. Itulah gunanya bantuan-bantuan seperti ini,” katanya.
Tito memastikan penyaluran bantuan tidak berhenti pada tahap awal. Pemerintah akan terus menambah bantuan apabila masih ditemukan masyarakat yang membutuhkan dan datanya dapat dipertanggungjawabkan.

Di sisi lain, Tito menjelaskan karakteristik bencana yang terjadi di wilayah Sumatera berbeda dengan bencana di daerah lain di Indonesia. Bencana tersebut terjadi di 52 daerah yang tersebar di Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan Aceh dengan tingkat kerusakan yang tidak merata, sehingga proses pendataan menjadi lebih kompleks.
Untuk mempercepat proses pemulihan, Satgas PRR melakukan pendataan secara bertahap tanpa menunggu seluruh data selesai dihimpun.
“Kita kalau nunggu selesai data semua baru kemudian dibagikan, atau dibuatkan huntara, nanti akan lama proses pemulihannya,” ujarnya.

Berdasarkan pendataan sementara, Satgas PRR mengklasifikasikan kerusakan rumah warga menjadi tiga kategori, yakni rusak ringan, rusak sedang, dan rusak berat atau hilang. Masyarakat yang terdampak akan menerima bantuan stimulan sesuai tingkat kerusakan yang telah diverifikasi oleh Badan Pusat Statistik (BPS).
“Yang perlu bantuan stimulan ekonomi, yang perlu bantuan perabotan, uang lauk pauk secepatnya kirim saja dulu. Setelah diverifikasi BPS, kemudian baru kita serahkan kepada BNPB untuk rumah, dan bantuan bagi masyarakat kepada Menteri Sosial,” kata Tito. (ALN)
