Edukasi Kebencanaan Dimulai dari Tingkat RT, Relawan Dorong Warga Jadi Responden Pertama
Portal Kawasan, JAKARTA – Penanganan bencana tidak selalu harus menunggu petugas datang. Masyarakat di tingkat paling dekat dengan lokasi kejadian, termasuk lingkungan rukun tetangga (RT), dinilai perlu memiliki pengetahuan dasar tentang kesiapsiagaan dan respons awal terhadap bencana.
Pesan tersebut disampaikan Ade Kocil dari Khatulistiwa Residenci dalam rangkaian kegiatan Emergency Disaster Reduction & Rescue (EDRR) Indonesia 2026 yang bertepatan dengan peringatan World Humanitarian Day. Kegiatan tersebut mempertemukan relawan dari berbagai organisasi yang bergerak dalam respons bencana, penyelamatan, hingga edukasi kebencanaan.
Menurut Ade, keterlibatan masyarakat menjadi penting karena petugas penyelamat tidak selalu dapat tiba di lokasi dalam waktu singkat. Kondisi seperti kemacetan maupun akses menuju lokasi bencana dapat memperlambat proses penanganan.
“Yang pertama terkait kesiapsiagaan masyarakat sampai ke tingkat terkecil, RT, untuk lebih peduli jika terjadi bencana atau musibah di wilayahnya,” ujar Ade.
Ia menjelaskan, masyarakat yang berada paling dekat dengan lokasi kejadian dapat menjadi pihak pertama yang melakukan respons sebelum bantuan dari instansi terkait tiba. Karena itu, edukasi kebencanaan tidak cukup hanya diberikan kepada kelompok atau organisasi tertentu, tetapi perlu menjangkau lingkungan permukiman.

Edukasi Sungai, dari Sampah hingga Risiko Banjir
Selain kesiapsiagaan bencana, Katulistiwa Rescue Team juga membawa edukasi mengenai lingkungan sungai. Program tersebut telah dilakukan secara rutin selama sekitar lima tahun melalui kegiatan edukasi sungai yang digelar dua minggu sekali.
Salah satu kegiatannya mengajak masyarakat, termasuk warga yang beraktivitas di kawasan Car Free Day Sudirman, untuk menyusuri sungai menggunakan perahu sekaligus mengumpulkan sampah.
Menurut Ade, pendekatan tersebut digunakan untuk menunjukkan secara langsung kepada masyarakat bahwa persoalan sampah di sungai bukan sekadar masalah kebersihan, tetapi juga berkaitan dengan risiko bencana.

“Jadi kita mengedukasinya seperti itu, supaya tidak membuang sampah langsung ke sungai,” katanya.
Edukasi juga diarahkan pada pemahaman bahwa persoalan sungai tidak dapat diselesaikan hanya di wilayah hilir. Jakarta yang berada di kawasan hilir aliran sungai turut menerima dampak dari kondisi lingkungan di wilayah hulu.
Karena itu, koordinasi dan edukasi juga dilakukan bersama komunitas serta organisasi yang berada di daerah hulu. Masing-masing kelompok diharapkan memiliki program untuk meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap lingkungan di sekitar aliran sungai.
Debit Air Surut, Edukasi Beralih ke Ruang Publik
Dalam dua bulan terakhir, kegiatan edukasi sungai tersebut untuk sementara dihentikan karena kondisi debit air yang sedang surut. Namun, aktivitas edukasi tidak berhenti.
Relawan kemudian memanfaatkan berbagai ruang publik dan kegiatan seperti EDRR Indonesia 2026 untuk menyampaikan pesan secara visual kepada masyarakat.

Ade mengatakan kondisi sungai yang mengalami pendangkalan juga menjadi perhatian. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah koordinasi dengan pemerintah untuk menyampaikan informasi mengenai kondisi sungai, termasuk kemungkinan pengerukan sedimen.
Sedimen yang menumpuk di dasar sungai dapat mengurangi kapasitas aliran. Karena itu, penanganannya perlu dilakukan melalui koordinasi antara masyarakat, komunitas, dan pemerintah sesuai kewenangan masing-masing.
Sungai Merdeka dari Sampah
Memasuki momentum peringatan kemerdekaan Indonesia, Ade berharap kesadaran masyarakat terhadap sungai semakin meningkat.
“Harapannya tahun ini adalah tahunnya Indonesia merdeka. Kami juga berharap sungainya juga merdeka dari sampah,” ujarnya.

Ia mengajak masyarakat tidak membuang sampah ke sungai, baik secara langsung maupun melalui perilaku yang pada akhirnya menyebabkan sampah masuk ke aliran sungai.
Menurutnya, menjaga sungai bukan hanya persoalan lingkungan. Sungai yang dipenuhi sampah dan mengalami gangguan kapasitas aliran dapat berkontribusi terhadap munculnya banjir.
Karena itu, edukasi kebencanaan idealnya dimulai dari hal sederhana: mengenali risiko di lingkungan sendiri, mengetahui apa yang harus dilakukan ketika terjadi bencana, serta menjaga lingkungan sebelum bencana terjadi.
Dengan pendekatan tersebut, masyarakat tidak hanya menjadi penerima bantuan ketika bencana datang, tetapi juga dapat berperan sebagai responden pertama di lingkungannya masing-masing. (ALN)
