Fauzi Bowo Dikukuhkan Jadi Ketua Dewan Adat Betawi, Pramono: Ini Salah Satu Janji Saya
Portal Kawasan, JAKARTA – Mantan Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo resmi dikukuhkan sebagai Ketua Dewan Adat Lembaga Adat dan Kebudayaan Betawi di Balai Agung, Balai Kota DKI Jakarta, Jumat (28/8/2026). Pengukuhan tersebut menjadi babak baru dalam upaya menyatukan berbagai elemen masyarakat Betawi melalui satu wadah adat dan kebudayaan.
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengatakan pembentukan Lembaga Adat dan Kebudayaan Betawi merupakan salah satu janji yang pernah disampaikannya kepada masyarakat Betawi.
“Saya adalah orang yang paling bahagia karena ini termasuk salah satu janji saya,” kata Pramono dalam sambutannya.
Pramono mengungkapkan, proses menyatukan berbagai organisasi dan elemen masyarakat Betawi bukan perkara mudah. Ia mengaku telah berkali-kali berdiskusi dengan Fauzi Bowo untuk mencari formula yang dapat diterima seluruh pihak.
“Lebih dari 10-15 kali kita ketemu, maju mundur, maju mundur. Untung saja saya sabar banget,” ujarnya. Karakter masyarakat Betawi, kata Pramono, yang egaliter menjadi salah satu hal yang harus diperhatikan dalam membangun persatuan.
Karena itu, ia berharap lembaga baru tersebut tidak menjadi wadah bagi kelompok tertentu saja, melainkan mampu menaungi seluruh elemen masyarakat Betawi.

“Dengan lembaga adat dan kebudayaan Betawi ini terbentuk, saya betul-betul berharap bahwa lembaga adat dan kebudayaan Betawi ini bisa menaungi semuanya,” katanya.
Pramono juga memberikan apresiasi kepada Fauzi Bowo yang dinilainya konsisten mendorong penguatan kebudayaan Betawi. Ia mengatakan Fauzi tidak pernah meminta kepentingan pribadi setiap kali bertemu dengannya.
“Beliau tidak pernah minta apa-apa. Beliau setiap ketemu saya selalu bicara tentang kebetawian,” ujar Pramono.
Fauzi Bowo: Momentum Bersejarah
Fauzi Bowo menyambut terbentuknya Lembaga Adat dan Kebudayaan Betawi sebagai peristiwa bersejarah bagi masyarakat Betawi.
Ia mengingatkan perjalanan organisasi masyarakat Betawi telah berlangsung panjang, salah satunya ditandai dengan berdirinya Bamus Betawi pada 1982.
Menurut Fauzi, banyaknya organisasi Betawi selama ini menunjukkan tingginya antusiasme masyarakat untuk memajukan kaum Betawi. Namun, banyaknya organisasi juga tidak otomatis membuat perjuangan menjadi lebih efektif.
“Kuantitas yang banyak tidak otomatis menjamin cara efektif untuk memajukan suatu kaum,” kata Fauzi.

Karena itu, Fauzi berharap Lembaga Adat dan Kebudayaan Betawi dapat menjadi wadah yang menaungi seluruh elemen masyarakat Betawi sekaligus menjadi mitra sejajar Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.
Ia menjelaskan pembentukan lembaga tersebut merupakan hasil mufakat dalam Kongres Luar Biasa Majelis Kaum Betawi. Nomenklatur lembaga juga disesuaikan dengan Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2024 tentang Daerah Khusus Jakarta.
Di hadapan para tokoh Betawi, Fauzi mengajak seluruh keluarga besar Betawi mengedepankan persatuan dan bekerja bersama untuk kemajuan masyarakat Betawi.
“Kita kerja keras, kerja bareng, dan kerja ikhlas buat kemajuan kaum Betawi,” tegasnya.
Siapkan 500 Ondel-Ondel untuk 500 Tahun Jakarta
Selain pengukuhan Dewan Adat, Pramono mengungkapkan rencana Pemprov DKI Jakarta menyambut 500 tahun Jakarta pada 2027.
Salah satu agenda yang disiapkan adalah menghadirkan 500 ondel-ondel yang dirancang oleh 50 desainer. Karya tersebut direncanakan menjadi bagian dari perayaan sekaligus kado untuk Jakarta.

Pramono mengatakan lokasi pertunjukan 500 ondel-ondel masih dalam pembahasan, termasuk kemungkinan digelar di kawasan pantai, Maramis, atau Bundaran HI.
Ia menegaskan ondel-ondel sebagai ikon budaya Betawi harus ditempatkan secara terhormat dan tidak digunakan secara tidak semestinya. “Saya keberatan kalau ondel-ondel digunakan untuk ngamen,” ujarnya.
Pemprov DKI juga tengah menyiapkan buku tentang Betawi serta memperkuat identitas Betawi melalui berbagai kegiatan pemerintahan. Upaya tersebut antara lain dilakukan melalui penggunaan pakaian adat Betawi dalam kegiatan resmi serta pengembangan dan penyajian kuliner khas Betawi.
Pengukuhan Fauzi Bowo bersama jajaran Dewan Adat menandai dimulainya kepengurusan Lembaga Adat dan Kebudayaan Betawi. Lembaga tersebut diharapkan menjadi ruang bersama bagi tokoh adat, budayawan, ulama, akademisi, dan tokoh masyarakat untuk menjaga sekaligus mengembangkan adat dan kebudayaan Betawi sebagai bagian penting dari identitas Jakarta.
