Bang Ghozi: Hilangkan Kumuh Tanpa Menggusur, Warnai Kota dengan Kolaborasi
Dari Kampung Kumuh ke Kampung Warna-warni: Inspirasi Bang Ghozi untuk Jakarta
Portal Kawasan, JAKARTA — Di tepi Kali Brantas yang deras, H. Ghozi Zulazmi, S.Pi yang akrab disapa Bang Ghozi, berdiri sejenak, menatap deretan rumah berwarna-warni yang memantulkan cahaya lembut ke permukaan air.
Pasalnya, tempat ini dulu hanyalah daratan kosong, tak bertuan, lambat laun dipenuhi orang-orang yang datang mencari tempat tinggal. Dari ketidakteraturan, lahirlah kumuh; dari kumuh, kini tumbuh harmoni.
“Dulu ini wilayah kosong,” kenang Bang Ghozi, demikian seperti dikutip dari video yang diunggah di kanal YouTube resminya Bang Ghozi pada Senin (11/11), saat ia berkunjung ke Kampung Warna-warni di Kota Malang.
“Bukan daerah pendudukan, hanya tanah yang kemudian dipenuhi pendatang, lalu jadi tak beraturan, jadi kampung kumuh,” katanya.
Namun, bagi Bang Ghozi, keajaiban kampung ini bukan sekadar cat di dinding. Bukan hanya warna yang menutupi kusam, melainkan perubahan kebiasaan, dari bad habit menjadi good habit. Kampung yang dulu dikenal suram, kini menatap masa depan dengan mata yang baru.
Dari Gusur ke Rawat, Dari Kumuh ke Indah
Dalam pandangan Bang Ghozi, keindahan sejati bukan hasil pemaksaan, melainkan kolaborasi. Ia melihat bagaimana di Malang, mahasiswa, masyarakat, dan pemerintah bahu-membahu menata bantaran Kali Brantas.
“Pemerintah di sini tidak menggusur, tapi menata. Ada CSR yang digunakan untuk membangun kampung, dan pemerintah menjadi regulator yang mempermudah, bukan mempersulit,” ujarnya. “Jakarta juga bisa menjadi kota global, asal kita hilangkan kekumuhan bukan dengan menggusur, tapi dengan menata.”
Ia lalu membandingkan dengan kondisi di Jakarta. Di bantaran Kali Ciliwung, potensi yang sama seolah menunggu disentuh: kampung yang bisa menjadi kanvas besar untuk melukis perubahan sosial. “Kita bisa meniru Malang, Bandung, dan kota-kota lain yang sudah lebih dulu berinovasi. Dengan konsep collaborative implementation planning, kita bisa berbuat lebih baik bersama masyarakat dan kampus,” tambahnya.
Ketika Warna Jadi Bahasa Harapan
Bagi Bang Ghozi, kehadirannya di Kampung Warna-warni bukan sekadar kunjungan kerja. Ia menyaksikan bagaimana warna bisa menyembuhkan luka sosial — bagaimana cat, kreativitas, dan kepedulian bisa menumbuhkan rasa memiliki.
“Saya kira datang hanya melihat beautifikasi rumah dicat indah, jadi bagus. Tapi ternyata bukan itu. Ini tentang perubahan kebiasaan, perubahan cara pandang,” katanya.
Kini, di sepanjang Kali Brantas, tiga kampung berdiri sebagai simbol kebangkitan: Kampung Warna-warni, Kampung 3D, dan Kampung Biru. Dari wilayah yang dulu dianggap kumuh dan rawan kriminal, kini menjadi destinasi wisata, ruang edukasi, dan pusat ekonomi kreatif masyarakat.
Bang Ghozi menyebutnya sebagai inspirasi bagi Jakarta. “Menatanya bukan hanya bangunannya,” ujarnya, “tapi juga masyarakatnya, agar bertumbuh, ekonominya berdaya, dan warganya sadar akan kebersihan dan pendidikan.”
Sungai, Cermin Kota dan Hati
Kampung Warna-warni di Malang kini bukan sekadar lokasi wisata, tapi pelajaran hidup — bahwa warna bukan sekadar cat, tapi tanda kesadaran baru. Di matanya, sungai adalah cermin: ketika airnya jernih, masyarakatnya pun bening niatnya.
“Normalisasi tidak selalu berarti menggusur,” tutur Bang Ghozi menutup perjalanannya. “Kadang, cukup dengan menormalkan hati dan kebiasaan,” tuntasnya. (ALN)
