Permata MHT dan Tantangan Zaman: “Tak Perlu Superman, Cukup Kompak”
Portal Kawasan, JAKARTA – Dewan Pembina Permata MHT, H. Fauzi Bowo, mengingatkan bahwa organisasi hari ini bukan lagi kapal layar yang cukup bertumpu pada satu nakhoda. Di era digital, katanya, setiap anggota harus menjadi kompas, bersiap menavigasi tantangan baru tanpa kehilangan arah.
Pesan itu ia sampaikan dalam Musyawarah Besar (Mubes) Permata MHT di Grand Cempaka Hotel, Puncak Bogor, Jumat (21/11/2025). Dalam ruang penuh dinamika itu, Fauzi membuka sambutannya dengan metafora sederhana namun mengena: teknologi adalah angin. Kita tak bisa menghentikannya, tapi kita bisa belajar mengendalikan layar.
“Jangan cuek terhadap kemajuan teknologi. Mau tidak mau harus kita hadapi. Yang penting kita jangan menjadi korban. Manfaatkan sebaik mungkin, karena apa pun sekarang bisa kita cari lewat handphone,” ujarnya, mengingatkan bahwa gawai bisa menjadi peta atau jebakan bergantung siapa yang menggenggam.

Ia menyebutkan, di balik segala kemudahan digital, ada “arus balik” yang mengancam terutama generasi muda. Orang tua, ia pesan, mesti lebih peka ketika anak tiba-tiba banyak menghabiskan waktu tenggelam dalam layar. Di sinilah kewaspadaan menjadi pelampung.
Sebagai mantan Gubernur DKI Jakarta, Fauzi melihat Permata MHT sebagai rumah yang kokoh menanamkan nilai-nilai kebetawian. Namun rumah itu, katanya, harus terus diperkuat pondasinya agar mampu melewati musim yang berganti dan diwariskan kepada generasi berikutnya yang akan memikul tantangan lebih rumit.
Pada ranah politik, Fauzi menyebut perubahan sebagai keniscayaan. Namun dalam organisasi, kekuatan tidak pernah lahir dari satu figur.

“Permata MHT tidak membutuhkan supermen. Yang kita butuhkan adalah kekompakan para pengurus,” tegasnya. “Permata MHT harus menjadi jaringan yang kuat bagi orang Betawi, mampu duduk sejajar dengan pemerintah sebagai mitra yang mewakili masyarakat.”
Ia juga menyinggung pentingnya menghidupkan kembali peran aktif kaum perempuan Permata MHT “sayap organisasi” yang menurutnya pernah begitu dinamis.
Harapan pun disampaikan: Mubes 2025 diharapkan menjadi sumur keputusan baru, melahirkan pemimpin yang solid dan strategi yang meneguhkan masa depan organisasi.

Dalam acara tersebut, Bang Fauzi menerima dummy buku sejarah 50 tahun perjalanan Permata MHT, diserahkan secara simbolis sambil menunggu proses penyelesaian final.
Sejumlah tokoh hadir memberi warna pada forum itu, di antaranya Kepala BKD DKI Jakarta Bang Haidir, perwakilan Dinas Pendidikan Rusmantoro, perwakilan Bamus Suku Betawi 1982 M. Ikhsan, serta dari Kesbangpol Mazhar Setiabudi dan Eli Ezer.
Sebuah pertemuan yang tak hanya menyusun agenda, tetapi juga mengikat kembali simpul-simpul kebersamaan karena seperti yang diingatkan Fauzi, kekuatan organisasi bukan pada superman, melainkan pada tangan-tangan yang bergandengan. (ALN)
