DOCI Kirimkan “Napas Harapan” untuk Sumatera Lewat Kapal Perang TNI AL
Portal Kawasan, JAKARTA – Ketika tanah Sumatera kembali retak oleh longsor dan hujan ekstrem, Ducati Official Club Indonesia (DOCI) memilih tak hanya menjadi saksi.
Jalur yang semula mereka taklukkan dalam Touring Sumatera akhir November 2025 lalu, kini berubah menjadi garis luka panjang. Seolah jalanan itu memanggil kembali, bukan untuk dipacu dengan mesin, tetapi untuk disembuhkan dengan kepedulian.

Dalam waktu kurang dari 24 jam, komunitas pecinta Ducati terbesar di Indonesia itu mengubah garasi dan grup komunikasi mereka menjadi posko darurat penuh solidaritas.
Kotak-kotak bantuan berupa makanan instan, sarden kaleng, biskuit, pakaian hangat hingga selimut darurat mengalir seperti arus deras, hingga menembus lebih dari satu ton logistik. Bukan sekadar donasi, melainkan “napas harapan” yang disiapkan untuk saudara di Sumatera.

Menariknya, DOCI lalu menggandeng Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut, memastikan setiap paket kebaikan ini sampai ke tangan yang membutuhkan.
Bantuan didistribusikan melalui kapal Rumah Sakit Apung, KRI dr. Radjiman Wedyodiningrat, kapal yang kerap menjadi jangkar harapan bagi warga di wilayah bencana.

Serah terima berlangsung hening namun sarat makna di pangkalan militer laut Tanjung Priok, Selasa pukul 06.00 WIB. Di bawah langit pagi yang masih pucat, para pengurus dan sukarelawan DOCI bahu membahu bersama awak kapal KRI, menaikkan bantuan ke lambung kapal.
Setiap kardus seakan menjadi simbol bagaimana komunitas sipil dan militer dapat menyatukan langkah dalam satu misi kemanusiaan. Bantuan diterima langsung oleh Komandan Kapal, Kolonel Laut (P) Ridwansyah, yang memastikan logistik akan didistribusikan ke titik-titik terdampak.

Presiden DOCI, Stephanus Wibowo, tak dapat menyembunyikan keharuannya saat mengenang perjalanan mereka sebelumnya.
“Kami baru saja menikmati keindahan Sumatera Barat hingga Utara dan merasakan langsung kehangatan masyarakatnya. Melihat jalur yang kini hancur membuat kami terpukul. Ini bukan sekadar donasi, ini panggilan saudara. Kami berharap bantuan ini bisa meringankan beban masyarakat terdampak,” ungkapnya.

Bagi DOCI, perjalanan kali ini bukan lagi tentang tikungan, tanjakan, atau adrenalin. Touring yang baru berlalu menjelma menjadi pengingat bahwa roda solidaritas harus terus berputar, bahkan lebih cepat daripada mesin Ducati sekalipun.
Dari jalanan hingga geladak kapal perang, semangat persaudaraan komunitas ini menemukan bentuk barunya: kepedulian yang bergerak, mengalir, dan menguatkan.
Dengan aksi ini, DOCI kembali menegaskan jati dirinya, bukan hanya sebagai komunitas otomotif, tetapi sebagai keluarga besar yang siap hadir ketika negeri membutuhkan. (ALN)
