Brunch, Bisnis, dan Napas Tenang: Cerita Baru dari RoomSinc Sudirman
Portal Kawasan, JAKARTA – Jakarta sering kali terasa seperti mesin besar yang bergerak tanpa jeda. Namun di salah satu simpul sibuknya—Sudirman–Setiabudi—berdiri sebuah tempat yang seolah menarik napas lebih panjang dari kota, lalu menghembuskannya pelan kepada para pejalan: RoomSinc Sudirman, bagian dari Art Hotel Group, yang hari ini Rabu (3/12) resmi meluncurkan program brunch pertamanya.
Menurut I.M. Iqbal, Hotel Manager Art Hotel Sudirman, RoomSinc adalah brand yang kini berkembang di Semarang, Bandung, dan Jakarta. “Berdirinya di tengah kota, harganya pun mengikuti denyutnya,” tuturnya.

Hotel ini memiliki 70 kamar dalam tiga tipe: Incredible 20, Incredible 22, dan Incredible 33. Tipe suite—Incredible 33—menawarkan coffee machine, dua AC, dua TV, sofa, hingga balkon khusus smoking.
“Kalau kamar lain tidak bisa merokok, hanya suite yang bisa. Karena punya outdoor,” jelas Iqbal.

Brunchy Brunch: Hidangan di Antara Waktu
Hari ini, RoomSinc meluncurkan Brunchy Brunch di restoran Spoonful. Iqbal menyebut menu buffet ini dibuat untuk menjawab kebutuhan pekerja kantor sekitar Sudirman yang membludak mencari makan sejak pukul 11.30 WIB.
“Harga Rp75.000 net, free-flow coffee dari jam sebelas sampai jam dua,” ujarnya.
Menu pun berganti sesuai hari: Asia, Sundaan tiap Jumat, dan minggu berikutnya Padang dan semuanya bertema.
“Kami gak mau menu stagnan. Hidup itu bergerak, masakannya juga harus mengikuti,” paparnya.

Hotel Bisnis dengan Napas Kasual
Iqbal menegaskan RoomSing Sudirman adalah hotel bisnis yang berjiwa santai. “Kami tidak terlalu formal. Lebih casual tapi hospitality tetap kental,” katanya.
Salah satu keunikan adalah Spin Wheel saat check-in. “Biasanya welcome drink ambil dari dispenser. Kalau di sini, tamu putar roda: bisa dapat matcha, kopi, teh, atau jus,” kata Iqbal.
Tren minuman juga dievaluasi setiap tiga bulan. “Sekarang lagi zamannya matcha,” tambahnya.
Dibuka pada 18 Juli 2025 lalu, RoomSinc tetap stabil meski kondisi ekonomi sempat menegang. “Kita tidak punya meeting room, jadi gesekannya minim. Tamu kita kebanyakan pebisnis area Sudirman–Setiabudi,” kata Iqbal. Occupancy terakhir tercatat 88%.

Lokasi: Mengikuti Nadi Bisnis Jakarta
Menurut Iqbal, kawasan Sudirman–Setiabudi dipilih karena potensinya besar. menurutnya, daerah ini sangat komersial dan jadi target market yang bagus. “Art Hotel pun sudah memiliki beberapa properti di radius sekitar sini,” sebutnya.
Bandung dan Semarang pun mengikuti pola sama: hotel RoomSing menempel dengan mall agar mobilitas tamu lebih mudah.

Rencana Ke Depan
Iqbal menyebut pihaknya tengah menyiapkan smoking area baru di area parkir. “Hotel sekarang banyak yang non-smoking. Tapi kita tetap dengar masukan tamu. Jadi akan ada area tambahan selain balkon suite,” kata dia.
Bagi Iqbal, hotel bukan sekadar tempat menginap—melainkan ruang bernafas bagi para pejalan kota. “Yang kami bangun di RoomSing Sudirman adalah tempat untuk pulang setelah hari yang panjang,” pungkasnya. (ALN)
