Garuda Institute Nilai Soeharto Layak Jadi Pahlawan Nasional
Portal Kawasan, JAKARTA — Direktur Garuda Institute, Muhammad Irvan Mahmud Asia, menilai Presiden ke-2 RI Soeharto layak dianugerahi gelar Pahlawan Nasional atas berbagai jasa dan keberhasilannya memimpin Indonesia selama lebih dari tiga dekade.
Menurut Irvan, penolakan terhadap usulan gelar tersebut sangat disayangkan, karena sejarah kepemimpinan Soeharto telah meninggalkan banyak warisan positif bagi bangsa.
“Tentu kita menghargai pihak yang menolak, tetapi apapun keputusan pemerintah nanti harus dihormati,” ujar Irvan dalam keterangan tertulisnya, Minggu (9/11).
Irvan menilai Soeharto memiliki peran besar dalam memulihkan keamanan nasional pasca peristiwa G30S/PKI, yang saat itu berpotensi memecah belah bangsa. Meski penuh kontroversi, menurutnya, tindakan Soeharto kala itu dilakukan dalam konteks penyelamatan negara dari ancaman ideologi komunis.
Selain menjaga stabilitas politik, Soeharto disebut berhasil meletakkan fondasi pembangunan nasional lewat Trilogi Pembangunan: stabilitas nasional, pertumbuhan ekonomi tinggi, dan pemerataan hasil pembangunan.
“Swasembada beras tahun 1984 menjadi tonggak penting. Dari negara pengimpor, Indonesia justru mampu membantu korban kelaparan di Afrika,” ucap Irvan.
Irvan juga mengingatkan keberhasilan Soeharto menurunkan hiperinflasi 500 persen yang terjadi di era sebelumnya dengan menggandeng para teknokrat ekonomi. Program Rencana Pembangunan Lima Tahun (Repelita) dinilai sukses menekan angka kemiskinan dari sekitar 40 persen pada awal 1970-an menjadi 11 persen di awal 1990-an.
Soeharto juga dikenang lewat peluncuran Satelit Palapa, menjadikan Indonesia negara pertama di Asia Tenggara yang memiliki satelit komunikasi sendiri, serta program Keluarga Berencana (KB) yang berhasil menekan laju kelahiran dan meningkatkan kesejahteraan keluarga.
“Berkat program KB, angka kematian bayi turun dan usia harapan hidup meningkat. Ini diakui dunia dengan penghargaan Population Award dari UNICEF pada 1989,” tutur Irvan.
Secara internasional, Soeharto juga menerima 37 tanda kehormatan dari berbagai negara dan tujuh penghargaan dari lembaga dunia atas kontribusinya di bidang pembangunan.
“Fakta ini tidak bisa dinafikan. Beliau layak ditempatkan sejajar dengan putra-putri terbaik bangsa lain yang sudah bergelar pahlawan nasional,” tegas Irvan.
Lebih jauh, Irvan berharap penganugerahan gelar pahlawan nasional bagi Soeharto bisa menjadi momentum refleksi dan keteladanan, khususnya bagi generasi muda.
“Disiplin, komitmen, dan kerja keras Pak Harto terhadap bangsa patut diteladani. Membangun negara butuh keteguhan dan semangat pengabdian,” ujarnya.
Ia menambahkan, bangsa ini perlu terus menatap ke depan dengan semangat persatuan, tanpa melupakan jasa para pemimpin masa lalu.
“Kita bisa bersikap kritis tapi tetap menghargai, sebagaimana dicontohkan Gus Dur, Taufiq Kiemas, hingga Presiden Prabowo Subianto,” kata Irvan.
Irvan menutup dengan menyebut bahwa usulan pemberian gelar pahlawan nasional kepada Soeharto sudah melalui proses panjang sejak era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).
