Pemerintah Genjot Dua Mesin Ekonomi, Kejar Target Pertumbuhan 8 Persen
Portal Kawasan, JAKARTA – Pemerintah mulai mengandalkan dua mesin penggerak ekonomi untuk mengejar target pertumbuhan ekonomi 8 persen, yakni melalui belanja negara dan penguatan peran sektor swasta. Strategi tersebut ditempuh dengan memperkuat likuiditas perbankan, mendorong penyaluran kredit ke sektor produktif, hingga mempercepat investasi.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan, pemerintah ingin memastikan perputaran uang di dalam perekonomian meningkat sehingga aktivitas dunia usaha dapat bergerak lebih agresif. Menurutnya, selain mengandalkan belanja pemerintah, sektor swasta juga harus didorong menjadi penggerak utama ekonomi.
“Selain belanja pemerintah, kita pastikan uang di perekonomian cukup. Sehingga perbankan kita dorong untuk menyalurkan dana yang ada agar masuk ke perekonomian. Dengan cara itu sektor swasta juga hidup,” ujar Purbaya dalam keterangan pers yang diterima, Ahad (24/5).
Sebagai bagian dari strategi tersebut, pemerintah memindahkan dana sekitar Rp200 triliun dari Bank Indonesia ke sistem perbankan nasional. Langkah itu dilakukan untuk memperkuat likuiditas sektor keuangan sekaligus meningkatkan kapasitas penyaluran kredit kepada dunia usaha.

Menurut Purbaya, target pertumbuhan ekonomi 8 persen memang cukup ambisius, namun masih realistis untuk dicapai apabila sektor swasta memperoleh dukungan pembiayaan yang memadai.
“Angka 8 persen memang tinggi, tapi bukan sesuatu yang mustahil. Yang pertama harus dipastikan adalah sektor swasta bisa tumbuh dengan kecukupan dana di sektor finansial,” katanya.
Di sisi lain, pemerintah juga berupaya memperbaiki iklim investasi melalui pembentukan Satuan Tugas (Satgas) Percepatan Program Pemerintah untuk Mendukung Peningkatan Pertumbuhan Ekonomi. Satgas lintas kementerian itu akan fokus mengatasi hambatan investasi, termasuk persoalan perizinan dan koordinasi antarinstansi.
Pemerintah juga menyiapkan dukungan pembiayaan berbunga rendah untuk perusahaan yang berorientasi ekspor. Skema tersebut akan disalurkan melalui Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) dan PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI), dengan bunga yang dipatok sekitar 5–6 persen.
Langkah tersebut diharapkan mampu meningkatkan minat investasi sekaligus mempercepat ekspansi dunia usaha guna mendukung target pertumbuhan ekonomi nasional dalam beberapa tahun mendatang. (ALN)
