Riset Kampus Jangan Berhenti di Rak Perpustakaan, FIB UI Gandeng Media Lewat C-Hub
Portal Kawasan, DEPOK – Pengetahuan dan hasil riset perguruan tinggi dinilai tidak boleh hanya berputar di lingkungan akademik. Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (FIB UI) kini mendorong media menjadi mitra strategis untuk membawa kepakaran kampus lebih dekat kepada masyarakat melalui pengembangan Connectivity Hub (C-Hub).
Gagasan tersebut mengemuka dalam The 8th University, Government, Industry, and Community (UGIC) Forum bertajuk “Strengthening University-Media Partnerships for the C-Hub Initiative” di Gedung ITTC UI, Depok, Kamis (27/8/2026).
FIB UI melihat perkembangan teknologi digital dan perubahan pola konsumsi informasi masyarakat menuntut perguruan tinggi mengubah cara menyampaikan pengetahuan. Media tidak lagi dipandang sebatas tempat memasang siaran pers, tetapi menjadi bagian dari ekosistem untuk mengolah dan mendistribusikan pengetahuan akademik.
PIC UGIC C-Hub FIB UI sekaligus penanggung jawab kegiatan, Eva Latifah, Ph.D., mengatakan C-Hub dirancang untuk mempertemukan kepakaran akademik dengan kebutuhan masyarakat dan industri.

“Kami ingin C-Hub menjadi ruang yang mempertemukan pengetahuan akademik dengan kebutuhan masyarakat. Dalam proses itu, media bukan hanya menjadi saluran untuk menyampaikan informasi, tetapi mitra strategis yang membantu pengetahuan dari universitas menjadi lebih relevan, mudah dipahami, dan dapat menjangkau publik yang lebih luas,” ujar Eva.
Menurut Eva, kolaborasi dengan media menjadi bagian penting untuk memastikan hasil penelitian dan kepakaran akademisi tidak berhenti menjadi konsumsi internal kampus.
Melalui forum tersebut, FIB UI juga mengundang praktisi media dari berbagai platform untuk memberikan masukan mengenai kebutuhan industri pemberitaan sekaligus pola kerja media di tengah perubahan ekosistem digital.

Kampus Harus Paham Cara Kerja Media
Chief Editor Getpost.id, M. Syakur Usman, S.S., dalam sesi “How to Engaged with Media”, mengingatkan perguruan tinggi agar memahami kebutuhan media sebelum membangun kerja sama.
Perubahan lanskap media akibat digitalisasi dan kuatnya pengaruh media sosial membuat pola distribusi informasi ikut berubah. Karena itu, institusi perlu memahami apa yang memiliki nilai berita dan bagaimana informasi tersebut dikemas agar relevan bagi publik.
Syakur juga menekankan pentingnya membangun komunikasi berkelanjutan dengan jurnalis. Hubungan yang baik, dukungan press release dan press kit yang memadai, hingga media gathering dapat menjadi instrumen untuk membangun kemitraan antara institusi dan media.
Bukan Sekadar Kirim Siaran Pers
Sementara itu, Emir Chairullah, Ph.D., dalam paparannya “How Universities Engage with Media and Corporations”, mendorong universitas memperluas bentuk keterlibatannya dengan media dan korporasi.

Menurut Emir, kerja sama universitas-media dapat dikembangkan melalui media briefing, penyediaan komentar ahli untuk pemberitaan, diseminasi hasil penelitian, komunikasi melalui media sosial, hingga kampanye edukasi publik.
Kolaborasi tersebut dinilai dapat meningkatkan visibilitas dan dampak penelitian universitas. Pada saat yang sama, media maupun perusahaan mendapatkan akses terhadap kepakaran akademik, inovasi, serta talenta dari lingkungan kampus.
Namun, kemitraan tersebut tidak cukup dibangun atas kepentingan publikasi semata. Menurut Emir, diperlukan perjanjian transparan, strategi komunikasi yang jelas, penciptaan nilai bersama, tata kelola yang etis, serta evaluasi dampak secara berkala.
Melalui UGIC Forum ke-8, FIB UI berharap pembahasan bersama jejaring media dapat berujung pada model kolaborasi yang lebih konkret dalam pengembangan C-Hub.
Dengan demikian, C-Hub diharapkan menjadi lebih dari sekadar infrastruktur penghubung. Inisiatif tersebut diarahkan menjadi ekosistem yang membuat pengetahuan kampus lebih mudah ditemukan, dipahami, dan dimanfaatkan masyarakat.
